RUMAH TINGGAL HEMAT ENERGI

Bagi kita yang tinggal di iklim tropis yang kaya akan sinar matahari dan curah hujan, tentu 2 faktor inilah yang harus dipertimbangkan. Berikut beberapa item yang bisa diperhatikan:

Pola Atap
Tidak bisa dipungkiri, pola atap limas, pelana atau atap miring yang akan membuang air hujan adalah bentuk utama di iklim ini. Lihat rumah di Malaysia, Brunei dan juga tentu Indonesia. Minimal contoh di 3 negara ini sudah sangat mewakili.

Dengan atap ini air hujan akan jatuh, panas matahari akan tertampung di bawah plafond. Untuk itu jika tidak ‘kepepet’ sebaiknya plafond tetap ada. Jika ia dibuka dan ruang langsung bersentuhan dengan plafond akan panas jadinya. Jikapun demikian maka harus ada cara khusus untuk membuang panas yang masuk.

Lubang Angin
Jendela tidak dihitung. Karena sudah pasti ada. Yang penting adalah lubang angin di atas jendela. Bahkan ada yang membuat lubang angin di bawah jendela, karena udara dingin mengalir di bawah. Ada juga yang membuat lubang angin di tembok yang bersentuhan dengan ruang dalam plafond. Hingga hawa panas plafond tersedot keluar.

Taman
Sebaiknya taman berada di depan, belakang bahkan di dalam rumah yang sering juga disebut sebagai taman kering atau taman dalam. Hingga terjadi cross ventilation. Sirkulasi silang dari depan dan belakang bangunan. Dari kiri dan kanan bangunan.

Atap Tritisan
Biasa disebut juga srondoi atau konsol. Atau juga over stek. Atap ini berguna untuk mencegah tampias hujan. Hingga tembok tidak kotor dan hujan tidak masuk ke dalam rumah melalui celah-celah yang ada.

Pada saat panas ia berfungsi sebagai penghambat rambatan panas matahari. Hingga yang masuk hanyalah cahaya tanpa panas. Walaupun hanya pantulan saja. Sudah cukup bagi rumah untuk pencahayaan alami. Karena jika tidak maka rumah akan terasa hangat bahkan panas.

Pohon
Dipisahkan dengan taman karena pohon adalah bagian dari tumbuhan yang memberi naungan bayangan bagi rumah. Matahari panas cukup menimpa pucuk-pucuk dahan saja. Bagian bawahnya yang teduh akan membuat suhu udara dingin. Hingga saat angin bertiup bukan hawa panas yang masuk ke dalam rumah.

Ketinggian Lantai
Sebaiknya memang rumah lebih tinggi dari jalan. Curah hujan yang tinggi membuat rumah kita rawan banjir. Sebagai contoh Jakarta yang dipenuhi belukar beton. Bingung air lari ke mana. Yang disalahkan rumah-rumah kecil kelas rakyat. Lempar batu sembunyi tangan. Padahal daerah resapan habis dibangun mall, perkantoran dan gedung-gedung besar.

Urugan tanah dari galian pondasi saja hanya menghasilkan ketinggian lantai 20- 30 cm. Amannya paling tidak 1/2 meter. Bahkan tetangga saya ada yang sampai 1 meter mengurugnya. Bagaimana lagi? Rakyat kecil hanya bisa berusaha dengan caranya masing-masing.

Rumah lantai 2 lebih baik lagi. Walaupun bagian lantai 2 tetap saja daerah terpanas. Ia akan tertimpa sinar matahari jauh lebih besar. Untuk itu lantai 2 harus memiliki tahanan matahari yang lebih besar, seperti atap konsol atau srondoi dan kerei penahan panas. Bukaan untuk membuang udara panas dan membuat sirkulasi juga semakin penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: